Selasa, 27 Maret 2018

Story telling 1

Mendengar cerita tentang teman temannya sesama vendor di suatu instansi, merasa miris sendiri.

Banyak dari mereka yang mulai tumbang satu persatu. Mereka yang dulunya sangat berjaya, namun kini hilang entah kemana.

Banyak hal yang jadi penyebabnya. Namun pada dasarnya adalah karena adanya perubahan. Ya perubahan iklim bisnis, perubahan pola transaksi yang dilakukan oleh institusi tersebut terhadap para vendor, perubahan peraturan peraturannya, dan lain lain.

Diluar sudah terjadi perubahan besar besaran, namun sebagian dari teman teman suami tetap pada pola bisnis model lama.

Gaya hidup juga jadi salah satu penyebabnya. Kalau dulu ada istilah besar pasak dari pada tiang, kalau saat ini, besar pengeluaran belanja untuk memenuhi life style dari pada pemasukan

Alhamdulillah masih diijinkan menjadi pengamat atas apa yang terjadi dilingkungan sekitar. Bukan sekedar untuk menyoraki kondisi mereka, namun lebih pada menjadikan semuanya itu sebagai ibroh atau pelajaran. Agar kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Gaya hidup yang boros tidak di imbangi dengan produktifitas yang tinggi. Lebih mengutamakan prestige dari pada fungsional membuat banyak orang terjebak pada pola hidup mewah. Malu kalau dilihat orang tampil sederhana membuat terseret pada pola berbelanja berlebih lebihan. Dan itu sangat tidak produktif terlebih untuk pelaku usaha menengah kebawah atau ukm

Sebagai istri seorang wiraswasta, sayapun merasa harus siap dan harus paham dengan kondisi real di lapangan seperti apa. Tidak hanya sebatas bahagia menerima hasil yang diberikan oleh suami dan kemudian berfoya foya.

Ibarat periuk, seorang wiraswasta harus punya cadangan logistik untuk dimasak dihari berikutnya, karena berbeda dengan para pegawai yang bisa mengandalkan jatah gajian beserta tunjangan tunjangannya.

Seorang wiraswasta harus lebih disiplin dalam mengatur keuangannya. Mana yang dipakai untuk usaha atau mengembangkan usaha, mana yang dipakai untuk kebutuhan sehari hari. Harus jelas dan tidak boleh tercampur. Itu pesan bussines coach kami kala itu.

Peran wanita/ istri dibelakang seorang bussinessman juga sangat menentukan. Belajar dari pengamatan selama ini. Sekalipun istri hanya ada dibelakang layar -istilah halusnya- tapi tetap harus paham kondisi pekerjaan yang sebenarnya. Itu bisa digali dengan cara terus menerus melakukan dialog mendalam dengan suami terkait pekerjaan, linkungan pekerjaan, perkembangan pekerjaan dan lain lain. Harus mau untuk terus belajar bersama. Karena itu juga untuk kemajuan hidup bersama.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar